Senin, 03 Januari 2011

aplikasi komputer bagi perawat

BAB I
 PENDAHULUAN

Komputer merupakan alat modern yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari.Mulai dari mengerjakan pekerjaan kantor, multimedia, hiburan, bahkan rumah sakit. Dewasa ini perkembangan komputer semakin berkembang dan masih akan terus berkembang tanpa batas.
 Kita sebagai calon perawat masa depan mau tidak mau harus mengikuti perkembangan kemajuan teknologi khususnya bidang komputerisasi agar hal tersebut dapat mempermudah dalam pekerjaan, dan tidak dapat dipungkiri perkembangan komputerisasi dalam keperawatan membawa efek positif dan efek negative.
Atas dasar itu kami mencoba membahasnya dalam bentuk makalah dengan harapan dapat berguna bagi teman-temen calon perawat masa depan khususnya bagi kami. Makalah ini kami susun sangat simpel agar para pembaca mudah mencernanya dan tidak bosan membacanya, Kami selaku penulis mohon maaf jika ada pembahasan yang kurang tepat dan menyimpang, karena kami masih dalam proses belajar. Selamat membaca.


  
BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Aplikasi Komputer dalam Keperawatan
Pelayanan dan manajer keperawatan harus memasukkan banyak data/informasi mengenai pasien mulai dari saat masuk hingga pasien pulang. Komputer mempengaruhi praktek, administrasi, pendidikan serta penelitian, dan dampaknya akan terus meluas. Abad informasi bagi masyarakat yang besar merupakan sejarah baru dalam perubahan teknologi, dan akan terus berkembang mempengaruhi kehidupan dan pekerjaan selama beberapa dekade.
Sebuah Sistem Informasi Rumah Sakit diaplikasikan untuk perijinan, catatan medis, akuntansi, kantor, perawatan, laboratorium, radiologi, farmasi, pusat supali, mutrisi/pelayanan makan, personel dan gaji. Dikebanyakan Rumah Skait aplikasi komputer untuk perawat lebih banyak digunakan untuk berbagai keperluan seperti, pengurusan administrasi, izin pulang, laboratorium, pengobatan, dan sebagainya. Perawat dituntut untuk membangun jaringan sesama profesi dan kolega, baik ditingkat lokal, nasional, maupun internasional, dimana dapat menggunakan aplikasi komputer yang berbasis online/internet. Untuk itulah perawat harus memiliki skil dalam mengoperasikan komputer.
Sistem informasi adalah kumpulan elemen yang saling berhubungan satu sama lain yang membentuk satu kesatuan untuk mengintegrasikan data, memproses dan menyimpan serta mendistribusikan informasi. (Sutedjo, 2002). Menurut Eko (2000), sistem informasi merupakan suatu kumpulan komponn-komponen dalam perusahaan atau organisasi yang berhubungan dengan proses penciptaan dan pengaliran informasi.
Menurut Azwar (1996), pada pelaksanaan pelayanan nonmedis diwakili oleh kalangan administrasi (administrator). Tugas utamanya adalah mengelola kegiatan aspek nonmedis rumah sakit sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Dewan Perwalian (penentu kebijakan rumah sakit).
Perangkat aplikasi adalah program praktis yang digunakan untuk membantu pelaksanaan tugas yang spesifik seperti menulis, membuat lembar kerja, membuat presentasi, mengelola database dan lain sebagainya.
Rekam medis berbasis komputer adalah penggunaan database untuk mencatat semua data medis, demografis serta setiap event dalam manajemen pasien di rumah sakit
Tujuan pengembangan sistem informasi ini tak lain adalah untuk :
1.    Mengembangkan dan memperbaiki sistem yang telah ada sehingga memberikan suatu nilaitambah bagi manajemen
2.    Meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam rangka pengelolaan rumah sakit
3.    Memberikan dasar pengawasan bagi manajemen yang kuat dalam bentuk suatu struktur pengendalian intern didalam sistem yang dikembangkan.
2.2  Bentuk Aplikasi Komputer dalam Keperawatan
·      Elektronic chart
Sistem ini dikembangkan di departemen radiologi. Hasil penelitian aplikasi ini didapatkan bahwa ada beban kerja perawat dengan sistem ini menjadi 28,2% lebih rendah dari menggunakan kertas. Beban kerja perawat secara keseluruhan terjadi penurunan secara bermakna yaitu sebesar 20,6%, beban kerja staf administrasi meningkat 28,4% (Youngyih Han, Seung Jae Huh, Sang Gyu Ju, Yong Chan Ahn, Do Hoo san Lim, Jung Eun Lee and Won Park, 2005, dalam http://jjco.oxfordjournals.org/terms.shtml.).
·         Computerized whiteboard
Aplikasi ini dibutuhkan di bagian perawatan gawat darurat dan hal ini sangat penting. Hal ini karena dalam perawatan gawat darurat dibutuhkan analisis tinggi dan cepat sehingga dapat dengan cepat mangambil keputusan atas keadaan klien. Keputusan yang cepat dan tepat akan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan keperawatan pada khususnya. Computerized whiteboard  yaitu sistem informasi keperawatan berbasis computer yang dimodifikasi dengan menambahkan layar lebar di Whiteboard. Tayangan yang lebar di Whiteboard akan memudahkan setiap tenaga kesehatan dan pasien untuk melihat informasi yang diperlukan, termasuk perkembangan kondisi kesehatan klien. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa terjadi peningkatan kualitas asuhan pasien dan terjadi efesiensi waktu dan tenaga.
·         Computer-Based Patient Record (CPR) systems
Yaitu melakukan pencatatan terhadap kondisi dan perkembangan penyakit pasien dengan menggunakan komputer. Dalam sisitem ini dilengkapi sistem pemantauan klien secara progresif. Sistem ini dikembangkan oleh Jose A. Borges, Merbil Gonzalez, Jose Navarro, and Nestor J. Rodriguez pada tahun 1997 (http://www.computer.org/portal/pages). Dalam penelitian mereka tentang aplikasi sistem tersebut, ditemukan bahwa terjadi penurunan biaya administrasi.
·         Personal digital assistance (PDA)
Komputerisasi dokumentasi keperawatannya dengan mengembangkan sistem link lokal. Sistem ini dikembangkan dengan memadukan teknologi link lokal seperti wifi, wlan. Sistem ini dikembangkan oleh Kuwahara, Noma, Tetsutani, Kogure, Hagita and Iseki pada tahun 2003 di Kyoto, Jepang. Sistem ini mampu memberikan informasi tentang asuhan keperawatan. Termasuk didalamnya asuhan dalam keadaan emergensi, atau dalam keadaan non emergensi.
Sistem ini diberi nama Wearable Auto-Event-Recording of Medical Nursing. Jadi sistem ini dapat digunakan dalam segala kondisi asuhan keperawatan. Setiap perawat dilengkapi dengan PDA yang didesain khusus sehingga peka terhadap kesalahan input dan eror data. Hasil penelitian dari aplikasi sistem ini menunjukan bahwa ada peningkatan kualitas dokumen dan menghindari dari keterlambatan tindakan keperawatan dalam keadaan darurat (Kuwahara, Noma, Tetsutani, Kogure, Hagita and Iseki, 2003, dalam http://google.books.co.id).
·         Radio frekuensi identification (RFID)
Sistem ini mampu memberikan informasi tentang asuhan keperawatan, menyimpan daftar obat, menyimpan data pasien, yang paqqling menarik adalah fungsinya sebagai alat pelacak. RFID dapat melacak keberadaan pasien (yang berbeutuk seperti gelang yang di pasangkan ketangan pasien), melacak keberadaan alat kesehatan (biasanya pada alat mahal dan bersifat darurat).



Beberapa bentuk Sistem Informasi Rumah Sakit
1.    web based electronic health record
Model web based electronic health record yang memungkinkan pasien menyimpan data sementara kesehatan mereka di Internet. Data tersebut kemudian dapat diakses oleh dokter atau rumah sakit setelah diotorisasi oleh pasien. Teknologi ini merupakan salah satu model aplikasi telemedicine yang tidak berjalan secara real time.
2.    Smart card
Pendekatan yang dilakukan menggunakan teknologi informasi adalah penggunaan smart card (kartu cerdas yang memungkinkan penyimpanan data sementara). Smart card sudah digunakan di beberapa negara Eropa maupun AS sehingga memudahkan pasien, dokter maupun pihak asuransi kesehatan. Dalam smart card tersebut, selain data demografis, beberapa data diagnosisi terakhir juga akan tercatat
3.    Bar code
Aplikasi penyimpan data portabel sederhana adalah bar code (atau kode batang). Kode batang ini sudah jamak digunakan di kalangan industri sebagai penanda unik merek datang tertentu à mempermudah supermarket dan gudang dalam manajemen retail dan inventori. Food and Drug Administration (FDA) di AS telah mewajibkan seluruh pabrik obat di AS untuk menggunakan barcode sebagai penanda obat.Penggunaan bar code juga akan bermanfaat bagi apotik dan instalasi farmasi di rumah sakit dalam mempercepat proses inventori. penggunaan barcode juga dapat digunakan sebagai penanda unik pada kartu dan rekam medis pasien.
4.    RFID (radio frequency identifier)
Teknologi penanda unik yang sekarang semakin populer adalah RFID (radio frequency identifier) yang memungkinkan pengidentifikasikan identitas melalui radio frekuensi. Jika menggunakan barcode, rumah sakit masih memerlukan barcode reader, maka penggunaan RFID akan mengeliminasi penggunaan alat tersebut. Setiap barang (misalnya obat ataupun berkas rekam medis) yang disertai dengan RFID akan mengirimkan sinyal terus menerus ke dalam database komputer. Sehingga pengidentifikasian akan berjalan secara otomatis.
5.    Teknologi nirkabel
Pemanfaatan jaringan computer dalam dunia medis sebenarnya sudah dirintis sejak hampir 40 tahun yang lalu. Pada tahun 1976/1977, University of Vermon Hospital dan Walter Reed Army Hospital mengembangkan local area network (LAN) yang memungkinkan pengguna dapat log on ke berbagai komputer dari satu terminal di nursing station. Saat itu, media yang digunakan masih berupa kabel koaxial. Saat ini, jaringan nir kabel menjadi primadona karena pengguna tetap tersambung ke dalam jaringan tanpa terhambat mobilitasnya oleh kabel. Melalui jaringan nir kabel, dokter dapat selalu terkoneksi ke dalam database pasien tanpa harus terganggun mobilitasnya.
6.    Komputer genggam (Personal Digital Assistant)
Penggunaan komputer genggam (PDA) menjadi hal yang semakin lumrah di kalangan medis. Di Kanada, limapuluh persen dokter yang berusia di bawah 35 tahun menggunakan PDA. PDA dapat digunakan untuk menyimpan berbagai data klinis pasien, informasi obat, maupun panduan terapi/penanganan klinis tertentu. Beberapa situs di Internet memberikan contoh aplikasi klinis yang dapta digunakan di PDA seperti epocrates.

Bahkan sebuah PDA dengan pemindai bar code/gelang data, saat ini sudah tersedia. PDA semacam ini memungkinkan tenaga kesehatan untuk memindai gelang bar code/gelang data pasien guna mengakses rekam medis mereka, seperti obat yang tengah dikonsumsi, riwayat medis, dan lain-lain. Selain itu, informasi medis tersebut dapat pula diakses secara virtual di mana pun kapan pun, dengan bandwidth ponsel yang diperluas atau jaringan institusional internet nirkabel kecepatan tinggi yang ada di rumah sakit.Di samping itu data pasien atau gambar kondisi/penyakit pasien dapat didokumentasikan, untuk tujuan pengajaran atau riset, demi meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
2.3  Keuntungan  Penggunaan  Komputer  Dalam  Dunia Keperawatan
1.  Pendidikan keperawatan
Pembelajaran menggunakan sistem komputer memiliki banyak kelebihan dan manfaat yang bisa diambil oleh perawat secara pribadi maupun oleh rumah sakit. Sehubungan dengan perannya sebagai alat instruksional untuk keterampilan klinis, CAL (computer assisted learning), memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berlatih di tempat yang nyaman dan dapat melihat ulang demonstrasi sesering mungkin sesuai dengan yang diinginkan (Bauer & Huynh, 2001).
·      Multimedia teknologi dalam bentuk video klip, foto dan grafik interaktif dapat membantu dalam menyampaikan langkah-langkah prosedur dengan cara yang konsisten dan mudah terlihat dan fitur ini membuat CAL cocok untuk berbagai prosedur keterampilan keperawatan.
·      Program interaktif dengan sistem komputer dapat lebih dinikmati dan menimbulkan kepuasan belajar bagi peserta didik, hal ini dikarenakan peserta didik bebas memilih waktu, tempat dan pengetahuan yang diperlukan yang semuanya ada di materi pembelajaran. Sesuai dengan yang dikemukakan  Suroso ( dalam DeAmicis, 1997; Harrington & Walker, 2003; Rouse, 1999), bahwa orang dewasa menyukai pembelajaran yang fleksibel.
·      CAL dapat menghemat waktu, karena dengan metode ini peserta didik cukup masuk dalam aplikasi sistem, selanjutnya dapat langsung memilih materi yang diperlukan.
·      Sumber CAL dapat dengan mudah diperbaharui  sehingga selalu bersifat up to date
·      CAL sangat efisien dan dapat digunakan secara mandiri tidak tergantung pada sumber daya manusia untuk memberikan pendidikan
2.  Praktek keperawatan
·      Memudahkan perawat merencanakan asuhan keperawatan, dapat mengevaluasi dan memperbarui informasi setiap saat, memanggil data yang sesuai dengan diagnosis keperawatan tertentu, serta mengurangi penggunaan berbagai  flowsheet.
·      Penghematan biaya dari penggunaan kertas untuk pencatatan.
·      Penghematan ruangan karena tidak dibutuhkan tempat yang besar dalam penyimpanan arsip.
·      Pendokumentasian keperawatan berbasis komputer yang dirancang dengan baik akan mendukung otonomi yang dapat dipertanggung jawabkan
·      Membantu dalam mencari informasi yang cepat sehingga dapat membantu pengambilan keputusan secara cepat.
·      Meningkatkan produktivitas kerja.
·      Mengurangi kesalahan dalam menginterppretasikan pencatatan
·      Menghimpun berbagai data klinis pasien tentang hasil pemeriksaan dokter, digitasi dari alat diagnosisi (EKG, radiologi, dll), konversi hasil pemeriksaan laboratorium maupun interpretasi klinis.
·      Catatan yang siap sedia. Rekam medis pasien telah siap sedia untuk digunakan dan waktu untuk mengambilnya sedikit.
·      Megurangi dokumentasi yang berlebihan
·      Mencetak instruksi pemulangan
·      Ketersediaan data
·      Mencegah terjadinya kesalahan pemberian obat.
·      Mempermudah penetapan biaya.
·      Catatan terorganisasi dan dokumentasi sesuai dengan standar keperawatan.
Sedangkan menurut Holmes (2003,dalam Sitorus 2006), terdapat keuntungan utama dari dokumentasi berbasis komputer yaitu:
1.    Standarisisasi: terdapat pelaporan data klinik yang standar, mudah dan cepat diketahui.
2.    Kualitas: meningkatkan kualitas informasi klinik dan sekaligus meningkatkan waktu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.
3.    Accessebility, legibility, mudah membaca dan mendapat informasi klinik dari pasien dalam satu lokasi.
2.4  Kekurangan  Penggunaan  Komputer  Dalam  Dunia Keperawatan
1.      Pendidikan keperawatan
Kekurangan penggunaan computer dalam pendidikan keperawatan ,antara lain adalah;
·      Teknologi sendiri bisa menjadi penghalang untuk belajar (Kenny, 2002).
·      Biaya dan sarana awal yang dibutuhkan untuk membangun sistem yang terkadang dirasa berat oleh managemen pendidikan.
2.      Praktek keperawatan
·      Dikhawatirkan akan adanya penurunan proses berpikir kritis dari perawat tersebut, karena informasi yang didapat mudah untuk diakses.
·      Dimungkinkan pula terjadi penurunan kepekaan antara perawat yang satu dengan yang lain ataupun antara perawat dengan klien. Karena segala sesuatu dapat dilakukan secara online (misaltele-health), tanpa harus tatap muka
·      Keterbatasan kapasitas penyimpanan data
·      Kemungkinan bisa terjadi gangguan teknis (disebabkan virus dan factor lainnya)
·      Tentunya dokumentasi keperawatan berbasis komputer juga mempunyai kelemahan, diantaranya adalah kemampuan perawat dalam melaksanakan proses keperawatan dan keterampilan perawat menggunakan komputer (Ammenthwerth, at all, 2003).
Kendala umum:
·      Peningkatan biaya untuk startup, memelihara, melatih, dan upgrade
·      Komputer dibutuhkan-takut komputer
·      Kerahasiaan, privasi dan keamanan sulit untuk menjamin
·      Masih belum membudayanya pengambilan keputusan berdasarkan data/informasi.
·      Terbatasnya kemampuan dan kemauan sumber daya manusia untuk mengelola dan mengembangkan sistem informasi


DAFTAR PUSTAKA
Jones & Bartlett. (2005) Introduction to Computers for Healthcare Professionals dalam http://books.google.co.id. Diakses tanggal 30 Desember 2010

Kuwahara, Noma, Tetsutani, Kogure, Hagita and Iseki. (2003). Wearable Auto-Event-Recording of Medical Nursing dalam http://google.books.co.id
(Gurley L, Advantages and Disadvantages of Electronic Medical Record, diakses dari http://www.aameda.org/member ). diakses tanggal 30 desember 2010
Latif, Bahtiar. 2009. Manajemen Sistim Informasi RS. http://ilmukeperawatan.net/index.php/artikel/14-manajemen-keperawatan/10-msirs.html. diakses tanggal 3 Januari 2011.

Selasa, 09 November 2010

idk 6 translete.. elemen penting penelitian kualitatif


BAB I
PENDAHULUAN


Penelitian kualitatif adalah riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.
Penyusunan tulisan ini tujuannya adalah untuk menawarkan pembaca eksposur untuk proses dan syarat yang penting untuk pendekatan penelitian kualitatif. Sangat penting bahwa pembaca memahami kemudian merangkul persamaan dan perbedaan paradigma penelitian sebelum meluncurkan ke pelaksanaan penelitian kualitatif.






BAB II
PEMBAHASAN


A.     Elemen Penting Penelitian Kualitatif
Salah satu perbedaan dalam penelitian keperawatan adalah bahwa peneliti perawat menghabiskan lebih banyak waktu mengembangkan pertanyaan-pertanyaan penelitian dan mengklarifikasi apa yang mereka rencanakan untuk belajar. Semakin lebih penting bahwa studi penelitian didasarkan pada pemikiran yang sehat dan pemahaman yang jelas tentang pertanyaan penelitian. Denzin (2000) menunjukkan bahwa selain untuk berhati-hati mengembangkan pertanyaan penelitian, peneliti juga harus memeriksa sifat politik dari pekerjaan mereka. Para perawat lebih memahami faktor-faktor yang memotivasi terlibat dalam pekerjaan mereka.

Setelah pertanyaan penelitian jelas diartikulasikan dan peneliti memiliki pemahaman masalah dan apa dampak kegiatan penelitian yang akan dipelajari, disiplin penelitian, berarti, peneliti perlu menentukan paradigma penelitian yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan.

B.      Enam karakteristik signifikan dari penelitian kualitatif
1.      kepercayaan dalam beberapa realitas
2.      komitmen untuk mengidentifikasi pendekatan untuk memahami yang mendukung fenomena yang diteliti
3.      komitmen untuk sudut pandang peserta
4.      melakukan penyelidikan dengan cara membatasi gangguan konteks alami dari fenomena kepentingan
5.      mengakui partisipasi proses penelitian
6.      pelaporan data dalam gaya sastra yang kaya dengan komentar-komentar peserta

“Peneliti kualitatif mengarahkan perhatian ke realitas manusia dan bukan dengan realitas konkret objek” (boyd ,2001,p.76). Bukannya mencari satu realitas- satu kebenaran- peneliti berkomitmen untuk penelitian kualitatif percaya bahwa individu secara aktif berpartisipasi dalam tindakan sosial, dan melalui interaksi yang terjadi berdasarkan pengalaman yang pernah dirasakan sebelumnya untuk mengetahui dan memahami fenomena dengan cara yang berbeda. karena orang-orang memahami dan pengalaman hidup berbeda, peneliti kualitatif tidak berlangganan satu kebenaran, melainkan, untuk banyak kebenaran. Peneliti yang menggunakan metode penelitian kualitatif percaya bahwa selalu ada beberapa realitas (Perspektif) yang diipertimbangkan ketika mencoba untuk memahami situasi (boyd,2001).

Peneliti kualitatif berkomitmen untuk penemuannya menggunaan berbagai cara pemahaman.
peneliti ini menjawab pertanyaan tentang fenomena tertentu dengan menemukan metode yang tepat atau pendekatan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Penemuan mengarah pilihan metode daripada metode penemuan terkemuka. Dalam beberapa kasus, lebih dari satu pendekatan kualitatif atau lebih dari satu strategi pengumpulan data mungkin perlu untuk sepenuhnya memahami fenomena.

Misalnya; dalam karyanya tentang ”akhir  dari keputusan hidup” oleh pasien hemodialisis (calvin,2004).wawancara yang digunakan adalah salinan dan catatan lapangan untuk menentukan bagaimana pasien dialisis tersebut. Transkrip dan catatan lapangan yang ditawarkan merupakan data tambahan untuk memajukan pemahaman tentang bagaimana individu tersebut membuat keputusan tentang akhir - dari - perlakuan kehidupannya. Dalam hal ini dan di lain studi penelitian kualitatif, penelitian berkomitmen untuk penemuan. Proses penemuan dalam penelitian kualitatif memberikan kesempatan untuk variasi dalam penggunaan strategis pengumpulan data. Metode dan strategi pengumpulan data dapat berubah sesuai kebutuhan, bukannya ditentukan sebelum penyelidikan dimulai.As maggs-rapport,( 2000). menunjukkan "ada manfaat yang akan diperoleh dari suatu pendekatan yang menggabungkan metode dan methodologis, asalkan kekakuan metodologis diterapkan sedikit pun keluar kecurigaan nilai yang mendasari satu metodologi”(p.224) proses ini berbeda dari cara tradisional atau ilmu pengetahuan positivis dikembangkan.

Komitmen untuk sudut pandang peserta adalah karakteristik lain Penggunaan penelitian kualitatif dengan wawancara terstruktur, observasi, dan alasan artefak peneliti di kehidupan nyata peserta studi. Peneliti kualitatif akan melakukan wawancara ekstensif dan dokumen observasi mencari dan artefak penting untuk memahami konteks dari apa yang diteliti. Tujuan dari penelitian ekstensif adalah untuk memberikan pandangan realitas yang penting bagi para peserta studi, bukan untuk para peneliti. Sebagai contoh, dalam sebuah penelitian grounded theory difokuskan untuk menjadi seorang ibu, Keating Lefler dan Wilson (2004) ditawarkan hanya satu pertanyaan pengantar untuk belajar peserta untuk melibatkan mereka dalam menggambarkan bagaimana rasanya menjadi ibu pertama kali mengingat keadaan khusus yang tunggal, unpatented, dan Medicaid memenuhi syarat. Alih-alih menggunakan alat untuk memeriksa persepsi perempuan, yang akan mencakup ide-ide yang akan dimunculkan tentang apa pengalaman perempuan itu, Keating Lefler dan Wilson malah menanyakan sebagai berikut: "Tolong beritahu saya bagaimana pengalaman menjadi seorang ibu dan apakah telah mempengaruhi kehidupan Anda? " Ini memungkinkan para peserta untuk berbagi pengalaman mereka, dalam kata-kata sendiri, daripada dipaksa menjadi garis pra-mapan berpikir yang dikembangkan oleh para peneliti.

Karakteristik lain dari penelitian kualitatif adalah melakukan penyelidikan dengan cara yang tidak mengganggu konteks alami dari fenomena dipelajari. Para peneliti diwajibkan untuk melakukan studi dengan cara yang paling mengganggu pengaturan alam. Menggunakan penelitian etnografi untuk menggambarkan karakteristik ini, etnograf akan mempelajari budaya tertentu dengan sebagai intrusi sesedikit mungkin. Hidup di kalangan peserta studi adalah salah satu cara untuk meminimalkan penyusupan dan mempertahankan konteks alam pengaturan tidak realistis untuk percaya bahwa pengenalan dari seorang individu yang tidak diketahui tidak akan mengubah sifat hubungan dan kegiatan diamati, namun kehadiran memperpanjang peneliti harus meminimalkan dampak intrusi.Semua penelitian mempengaruhi peserta studi dalam beberapa cara. Penambahan setiap orang baru atau perubahan mengalami meratap orang berpikir atau bertindak.

Faktor penting dalam penelitian kualitatif yang membuat perbedaan adalah perhatian yang serius untuk menemukan View emik, yaitu, perspektif orang dalam. Apa itu seperti bagi peserta? kualitatif peneliti mengeksplorasi pandangan orang dalam dengan hormat untuk perspektif individu dan ruang-nya. Seperti yang dinyatakan keterlibatan sebelumnya, berkepanjangan oleh peneliti memiliki efek mengurangi perubahan terbuka dalam perilaku orang-orang belajar. Oleh karena itu, seorang perawat tertarik untuk melakukan penelitian kualitatif harus menyediakan waktu yang cukup untuk membangun hubungan saling percaya dan menghilangkan gangguan yang diciptakan dengan memperkenalkan orang baru dalam pengaturan.Peneliti sebagai instrumen adalah karakteristik lain dari penelitian kualitatif. Penggunaan peneliti sebagai instrumen memerlukan penerimaan bahwa peneliti itu adalah bagian dari studi. Karena peneliti adalah pengamat, pewawancara atau penafsir berbagai aspek penyelidikan, objektivitas melayani tanpa tujuan. peneliti kualitatif menerima bahwa semua penelitian dilakukan dengan bias subjektif. Mereka lebih percaya bahwa partisipasi peneliti dalam penyelidikan memiliki potensi untuk menambah kekayaan pengumpulan data dan analisis.

Objektivitas adalah prinsip dalam penelitian kuantitatif yang mendokumentasikan kekakuan ilmu pengetahuan. Dalam penelitian kualitatif, ketelitian yang paling sering ditentukan oleh peserta studi dan penelitian konsumen. Dari poin peserta 'pandang: Apakah mereka mengenali apa peneliti telah dilaporkan menjadi budaya mereka atau pengalaman? Dari sudut pandang konsumen. Apakah peneliti tetap setia pada ekspresi para peserta tentang pengalaman mereka? Cukup bukti disediakan sehingga konsumen dapat menilai ini? Pengakuan dari sifat subjektif dari penelitian kualitatif dan pengertian bahwa peneliti mempengaruhi apa yang dipelajari merupakan dasar bagi melakukan penyelidikan kualitatif.

Terlepas dari pendekatan ini, peneliti kualitatif akan melaporkan temuan studi dalam gaya sastra yang kaya. pengalaman peserta merupakan temuan riset kualitatif. Oleh karena itu, penting pengalaman ini dilaporkan dari sudut pandang orang-orang yang telah hidup mereka. Pencantuman kutipan, komentar, dan narasi menambah kekayaan laporan dan untuk memahami pengalaman dan konteks di mana mereka terjadi.

Melakukan penelitian kualitatif mirip dengan membaca novel yang baik. Ketika dilakukan dalam semangat filosofi yang mendukung itu, penelitian kualitatif kaya dan bermanfaat, meninggalkan peneliti dan konsumen dengan keinginan untuk memahami lebih lanjut tentang fenomena yang menarik.Perjanjian dengan prinsip-prinsip dasar penelitian kuantitatif adalah langkah pertama dalam memutuskan apakah akan memulai penelitian kualitatif. Begitu peneliti memahami bahwa elemen-elemen penting akan memandu semua yang mereka lakukan, mereka dapat mulai mengeksplorasi berbagai metode kualitatif. Penting untuk dicatat bahwa semua pendekatan kualitatif berbagi tujuan yang sama dalam bahwa mereka berusaha untuk sampai pada pemahaman dari suatu fenomena tertentu dari perspektif mereka yang mengalami fenomena itu "(Woodgate, 2000, hal 194). Apa peneliti perlu untuk menentukan adalah pendekatan mana yang akan menjawab pertanyaan penelitian. Pilihan metode tergantung pada pertanyaan yang diajukan.ListenRead phonetically

Dalam pengembangan studi penelitian kuantitatif, peneliti yang tertarik untuk memulai dengan pencarian literatur yang luas tentang topik yang menarik. Dokumen ini meninjau butuhkan untuk studi dan memberikan diskusi yang menarik dan topik terkait.Ini membantu para peneliti menentukan apakah studi yang direncanakan telah dilakukan, dan jika demikian, apakah hasil yang signifikan ditemukan. Selain itu, para peneliti membantu memperbaiki pertanyaan penelitian, pilih kerangka teoritis, dan membangun sebuah kasus mengapa topik yang menarik harus dipelajari dan bagaimana peneliti akan pendekatan topik
Peneliti kualitatif biasanya tidak dimulai dengan tinjauan literatur yang luas. Beberapa peneliti kualitatif menunjukkan bahwa kajian literatur harus dilakukan sebelum memulai penyelidikan.Lain menerima bahwa sebuah tinjauan sepintas literatur dapat membantu untuk fokus studi atau menyediakan dan membimbing kerangka kerja (Creswell, 2003, p.30).alasan untuk tidak melakukan tinjauan literatur awal adalah untuk mengurangi kemungkinan bahwa peneliti akan mengembangkan asumsi atau prasangka pada subjek yang sedang diperiksa. Selain itu, tidak ada prasangka-prasangka yang dikembangkan pada subjek, peneliti seharusnya dilindungi dari peserta utama selama proses wawancara pada arah keyakinan peneliti.Sebagai contoh, jika seorang peneliti yang tertarik untuk mengembangkan teori tentang proses klien melewati dalam menerima kebutuhan amputasi, tinjauan literatur sebelum studi dapat mengarah pada perkembangan negara-negara yang sebelumnya terbentuk di diamputasi. Peneliti mungkin tidak memiliki keyakinan ini diadakan sebelum peninjauan kembali, tetapi, setelah itu, sekarang memiliki informasi yang dapat mempengaruhi bagaimana ia mengumpulkan dan menganalisa data.

Cresswell mengatakan bahwa  strategi induktif rencana-tipe membutuhkan literatur yang besar pada orientasi awal.Namun, penting untuk melakukan tinjauan literatur setelah menganalisis data. Tujuan dari meninjau literatur dalam penelitian kualitatif adalah untuk menempatkan temuan penelitian dalam konteks apa yang sudah diketahui. Umumnya, peneliti kualitatif tidak menggunakan tinjauan pustaka untuk membangun dasar untuk penelitian atau untuk menyarankan kerangka teoritis atau konseptual.

C.      Persiapan sebelum melakukan penelitian kualitatif
1.      memberi penjelasan dan keyakinan peneliti
Sebelum memulai sebuah penelitian kualitatif, penting bagi peneliti untuk menentukan pikiran nya, ide, anggapan atau asumsi tentang subjek, dan bias pribadi. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membawa kesadaran dan mengungkapkan apa yang diyakini tentang subjek. Dengan Bringin untuk kesadaran, keyakinan peneliti, ia berada dalam posisi yang lebih baik untuk mendekati topik secara terbuka dan jujur. Penjelasan keyakinan pribadi membuat penyidik sadar akan Hukum menarik lebih banyak yang mungkin terjadi selama pengumpulan dan analisis berdasarkan sistem kepercayaan agak researvher pada data yang dikumpulkan dari peserta.

Salah satu cara terbaik untuk menyebarkan keyakinan adalah menulis mereka. Menulis yang diperkirakan sebelum benar-benar melakukan studi penulis memberikan kerangka kerja.Jurnal selama waktu yang satu ini terlibat dalam penelitian juga membantu untuk menjaga pikiran yang terbuka dan pikiran peneliti untuk membedakan apa yang versus ide, komentar, dan kegiatan dari peserta. Sebagai peneliti kualitatif melakukan penelitian mereka, mereka dapat menggunakan jurnal mereka untuk "uji kenyataan" apa yang sedang diamati atau mendengar dari apa yang mereka tulis (ide peneliti atau asumsi).

Misalnya, mengatakan bahwa topik yang menarik adalah kualitas hidup orang dengan multiple sclerosis (MS).Peneliti memiliki kepentingan dalam topik berdasarkan sejarah panjang bekerja dengan orang-orang dengan penyakit terminal.Expeerience Menurut persepsi sendiri peneliti adalah bahwa orang dengan MS hidup sedih, terbatas. Jika peneliti tidak menjelaskan persepsi mereka dapat menyebabkan informan untuk menggambarkan pengalaman mereka ke arah para peneliti keyakinan sendiri tentang apa yang nyata atau penting. Hal ini mungkin terjadi sebagai akibat dari pertanyaan yang diajukan.Dengan mengajukan pertanyaan, peneliti mungkin mencoba untuk memvalidasi ide-idenya pada MS tanpa benar-benar menemukan arti dari MS bagi mereka yang tinggal bersamanya. Ingat, isu cara yang ditangani dapat mempengaruhi hasil dari tanggapan wawancara dan kadang-kadang memaksakan pada responden (McDougall, 2000).Tindakan untuk mengekspresikan ide-ide harus membantu mengingatkan peneliti untuk mendengarkan dan melihat apa yang nyata kepada responden, daripada apa yang nyata untuk researcher.Schutz (1970) merekomendasikan bahwa peneliti terus menggambarkan proses keyakinan pribadi tentang mereka seharusnya untuk membantu mereka menahan diri dari membuat penilaian mengenai peristiwa berdasarkan pengalaman pribadi.

Setelah peneliti telah menjelaskan pikiran, perasaan dan persepsi fenomena, dianjurkan bahwa peneliti kait pikiran-pikiran, perasaan dan persepsi. Bracketing adalah proses kognitif menyisihkan keyakinan, bukan untuk membuat penilaian tentang apa yang telah melihat atau mendengar dan tetap terbuka untuk data mereka releaved. Secara khusus, fenomenologi deskriptif, kegiatan ini dilakukan sebelum dimulainya penelitian ini diulang dalam pengumpulan dan analisis. Dalam pekerjaan etnografi, membuat jurnal tentang pemikiran pribadi dan perasaan merupakan cara yang bagus untuk menunjukkan dengan jelas ide-ide dari peneliti. Setelah releaved, peneliti dapat membatalkan.

Karena setiap metode dijelaskan secara mendalam dalam bab-bab berikut, contoh yang mengikuti hanya berfungsi sebagai pengantar untuk pemilihan metode yang didasarkan atas fenomena yang menarik. sambil membaca contoh, perlu diingat bahwa perawat peneliti penelitian kualitatif lebih peduli dengan nilai-nilai, keyakinan dan makna yang melekat pada kesehatan dan penyakit dari kondisi agregat. (hayes,2001)

Sebagai contoh, saat bekerja di sebuah panti jompo, perawat mungkin mengamati orang-orang yang tampaknya sangat bahagia dalam menempatkan diri sementara yang lain tidak. perawat tertarik dalam menemukan apa saja pengalaman hidup di dalam rumah jompo bagi mereka. yang tampaknya menyesuaikan diri dengan baik. dalam hal ini, perawat akan menggunakan fenomenologi untuk mempelajari lebih lanjut tentang pengalaman tinggal di sebuah panti jompo dari mereka yang tampaknya menikmati berada di sana. Tujuan fenomenologi adalah untuk menggali pengalaman hidup individu. fenomenologi menyediakan penelitian dengan kerangka untuk menemukan bagaimana rasanya hidup dengan sebuah pengalaman.

Jika perawat peneliti tertarik di rumah jompo sebagai lembaga yang peduli untuk orang tua dalam komunitas tertentu, serta anteseden politiknya, penyelidikan historis adalah pendekatan penelitian pilihan,. untuk sebuah studi historis, kajian dokumen kelembagaan seperti notulen, dokumen pribadi, buku harian, paper penelitian dan proses penelitian, artikel surat kabar, komentar, narasi, dan wawancara pribadi akan memberikan informasi yang diperlukan untuk mencatat kontribusi lembaga telah dibuat dalam perawatan lansia.

pertanyaan lain yang mungkin penting untuk dijawab adalah sebagai berikut: apa itu ingin membuat keputusan untuk menjadi penduduk panti jompo? berdasarkan komentar sebelumnya, fenomenologi mungkin merupakan metode pilihan, namun menganggap bahwa itu bukan pengalaman yang merupakan suatu yang menarik bagi peneliti, melainkan, proses bahwa individu berjalan melalui ini untuk sampai pada keputusan bahwa panti jompo adalah tempat yang tepat untuk tempat yang jadi. dalam hal ini, metode penelitian yang dipilih akan grounded teori. peneliti lebih tertarik dalam memahami proses memilih untuk meninggalkan rumah seseorang dan masuk ke rumah jompo daripada pengalaman aktual yang merupakan penduduk panti jompo. Tujuan adalah apa yang menentukan metode. lebih spesifik, peneliti grounded theory tertarik dalam proses memilih untuk meninggalkan tempat tinggal seseorang harus dirawat di rumah jompo berkomitmen untuk mengembangkan teori-pemahaman proses yang seorang individu berjalan melalui untuk sampai pada keputusan itu.

dalam situasi terkait, perawat mungkin tertarik dalam mempelajari budaya kelompok dengan dukungan keluarga bagi mereka dengan orang yang dicintai di sebuah panti jompo. perawat peneliti ingin mengamati dan mengumpulkan informasi tentang anggota kelompok, aktivitas mereka, nilai-nilai, artefak bermakna, dan cara hidup, serta berpartisipasi dalam sesi kelompok. dalam melakukannya, pemahaman penuh budaya dari kelompok pendukung dipelajari akan menjadi jelas. dalam kasus ini, etnografi akan menjadi metode pilihan.

jika seorang perawat peneliti tertarik dalam perubahan sosial yang berkaitan dengan penghuni panti jompo dan kemampuan mereka untuk berpartisipasi dalam pengaturan, sebuah studi penelitian tindakan mungkin pilihan yang tepat. dengan bekerja sama dengan warga untuk belajar mereka yang telah aktif dalam menjaga lingkungan independen. peneliti dan warga memiliki potensi untuk belajar dari pengalaman orang-orang warga yang telah terlibat, untuk mempelajari bagaimana mereka mempertahankan kemerdekaan mereka, dan membantu untuk bersama-menciptakan struktur untuk memastikan partisipasi penuh bagi mereka yang hidup dalam fasilitas tersebut. jika peneliti berkomitmen untuk pendekatan riset kolaboratif yang memfasilitasi partisipasi dan tindakan, maka penelitian tindakan adalah pilihan yang tepat. ketika peneliti memilih penelitian tindakan, mereka melayani dua tuan: teori dan praktek.

Deskripsi terbatas menunjukkan bahwa ada sejumlah metode penelitian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan latihan yang spesifik. peneliti perlu jelas mengidentifikasi fokus penyelidikan dan kemudian memilih bahwa metode yang akan paling efektif menjawab pertanyaan.
2.      Memahami posisi filsafat
Setelah peneliti telah mengidentifikasi pertanyaan penelitian dan telah membuat pendekatan eksplisit untuk mempelajari pertanyaan, pemahaman menyeluruh dari asumsi filsafati yang merupakan fundation metode sangat penting. terlalu sering, pemula peneliti kualitatif mengembangkan dan menerapkan studi penelitian tanpa memiliki pemahaman yang kuat tentang dasar-dasar filsafati dari metode yang dipilih. kurangnya pemahaman ini memiliki potensi yang mengarah ke ilmu ceroboh, menghasilkan temuan disalahpahami. misalnya, fenomenologi adalah pendekatan yang dapat digunakan untuk mempelajari pengalaman hidup. berdasarkan posisi filsafati didukung oleh peneliti, interpretasi yang berbeda mungkin terjadi. untuk lebih menggambarkan hal ini, fenomenologis yang mendukung Edmund hussesrl-pemimpin terkemuka dari gerakan-fenomenologis dan para pengikutnya percaya bahwa tujuan dari fenomenologi adalah untuk memberikan pemahaman murni. pendukung posisi filosofis dari Heidegger martin dan rekan-rekannya percaya fenomenologi yang interpretatif. kelompok juga tidak benar, melainkan, masing-masing pendekatan studi pengalaman tinggal dengan set yang berbeda dari tujuan sebuah harapan.

Komentar ditawarkan di sini akan membantu pembaca mengembangkan dan penghargaan atas pentingnya memahami metode yang dipilih dan dasar-dasar filosofis-nya. membuat eksplisit sekolah pemikiran yang membimbing penyelidikan akan membantu para peneliti untuk melakukan studi yang kredibel dan membantu mereka masyarakatnya yang menggunakan temuan menerapkan hasil dalam yang sesuai.SimakBaca seSimak

Baca secara fonetik
Simak
Baca secara fonetik
Dengan melakukan pengungkapan diri, peneliti lebih dapat untuk dapat terbuka dan sadar saat pengumpulan data, dan analisis data tersebut mencerminkan keyakinan pribadi mereka sendiri daripada keyakinan informan.

Ahern (1999) menyatakan bahwa proses “bracketing” adalah proses yang berulang dan merupakan bagian dari perjalanan refleksif. Ahern menyatakan bahwa penting untuk memproses pikiran kita mengenai fenomena yang menarik. Seperti yang telah diusulkan sebelumnya. Menuliskan semua pikiran kita adalah salah satu cara terbaik untuk mengetahui keyakinan kita. Ketika semuanya telah dituliskan, kita harus merenungkan apa yang telah ditulis dan mencoba untuk mengerti/memahami apakah nilai-nilai yang melekat pada penelitian kita, dan bagaimana pengaruhnya.

3.      Memilih “setting” untuk pengumpulan data
Setting dari penelitian kualitatif adalah lapangan. Lapangan adalah tempat individu untuk mendapatkan pengalaman hidup. Penyelidikan akan dilakukan di rumah, lingkungan, ruang kelas, atau tempat lain yang dipilih oleh peneliti. Alasan mengapa pengumpulan data dilakukan di lapangan adalah untuk menjaga pengaturan alam, dimana fenomena itu terjadi. Sebagai contoh, jika seorang peneliti tertarik dalam mempelajari budaya dari ICU (intensive care unit), ia akan  mengunjungi sebua tertarik ICU. Jika peneliti tentang pembuatan keputusan dalam keperawatan, maka ia akan menginterview dan mengamat seorang perawat.

Berada di lapangan merupakan proses timbal balik dalam pengambilan keputusan. Peneliti tidak boleh mengontrol/mengendalikan setting dari pembelajaran atau orang-orang yang menginformasikan penyelidikan. Contohnya, jika peneliti tertarik untuk mempelajari pengalaman hidup dari orang-orang yang mendapat diagnosa kanker, maka dia harus mengkaji orang-orang yang memiliki diagnosa tersebut.

Peneliti mungkin memutuskan untuk memilih individu yang tepat untuk diwawancarai. Namun, partisipan mungkin tidak bisa berbagi pikiran dan perasaan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan mengunjungi berkali-kali dan membangun kepercayaan, dapat menimbulkan rasa nyaman bagi partisipan untuk berbagi informasi. Penting untuk diingat bahwa penelitian kualitatif membutuhkan kemampuan interpersonal yang baik dan kesediaan untuk melepaskan kontrol yang berlebihan. Kepercayaan yang dikembangkan berdasarkan dari hubungan timbal balik akan meningkatkan proses penyelidikan karena kita dibolehkan untuk mengakses informasi dan ruang pribadi yang biasanya sangat dijaga oleh partisipan.

Penelitian kualitatif akan menciptakan situasi dimana terdapat batas dalam mengakses informasi. Interaksi sosial yang sangat dekat juga berpotensi menciptakan dilema etik, sehingga sangat membutuhkan kehati-hatian. Hanya dengan interaksi dan benar-benar berada di lapangan, akan membuat peneliti sadar akan kelebihan dan kelemahan penelitian kualitatif.

4.      Memilih Partisipan
Peneliti kualitatif biasanya tidak menyebutkan individu yang menginformasikan penelitian mereka sebagai “subjek”. Biasanya digunakan kata partisipan atau informan. “Individu yang bekerja sama aktif dalam penelitian disebut sebagai informan atau partisipan” (Polit, Beck, & Hunger, 2001, p.31). Keterlibatan aktif dari partisipan dalam penelitian sangat menolong orang-orang (peneliti) yang tertarik pada kehidupan mereka untuk lebih mengerti kehidupan dan interaksi sosial mereka.

Memilih partisipan dalan penelitian kualitatif berdasarkan pada kebiasaan/budaya, proses sosial, atau ketertarikan dari fenomena. Contohnya jika peneliti tertarik mempelajari kebiasaan wanita anoreksia, maka informan penelitiannya harus wanita yang mengidap anoreksia. Tidak seperti penelitian kuantitatif, tidak dibutuhkan pengacakan individu, karena manipulasi dan kontrol peneliti tidak dibutuhkan dalam penelitian kualitatif. Jadi, peneliti harus mewawancarai sebanyak mungkin wanita anoreksia agar dapat menjelaskan kebiasaan ini.
Teori sampling adalah proses pengumpulan data untuk menghasilkan teori, dimana analis itu dihasilkan secara bersama-sama dengan  mengumpulkan kode,analisis data dan memutuskan untuk mengumpulkan data apa berikutnya dan tempat untuk menemukan data tersebut  yang bertujuan  untuk mengembangkan teori itu dapat muncul.

Teoritis sampling adalah cara untuk mendorong penelitian,mengembangkan dan pematang pada teori pada tahap awal (Thompson, 1999, p.816).
Apa yang baik purposive sampling dan teoritis merupakan suatu komitmen untuk mengamati dan mewawancarai orang-orang yang telah memiliki pengalaman atau merupakan bagian dari budaya atau fenomena yang menarik. Tujuannya agar penelitian dapat mengembangkan deskripsi karya atau padat budaya atau fenomena, daripada menggunakan teknik sampling yang mendukung generalisasi temuan. Sebuah teknik sampling mempunyai tujuan tertentu adalah snowballing. Snowballing menggunakan satu informan untuk menemukan orang yang ingin di wawancarai. Teknik ini sangat berguna ketika orang yang Anda ingin wawancara sulit untuk ditemukan. Misalnya, jika Anda tertarik dalam mempelajari pengalaman orang tua angkat anak-anak Rumania yang memiliki masalah kesehatan kronis, pasti akan sulit untuk menemukan orang tua di satu tempat. Namun, jika Anda tahu satu set dari orang tua yang bersedia untuk mengarahkan Anda ke satu set orang tua, Anda dapat menggunakan kontak ini untuk mencari orangtua lain. Sixmith, Boneham, dan Goldring (2003), maka dengan menggunakan strategi ini mungkin akan sangat membantu,tapi strategi ini juga memiliki kelemahan yang berpotensi membatasi orang-orang dalam studi Anda yang berasal dari latar belakang yang sama.

Cohen Phillip dan Palos (2001) membahas nilai yang termasuk minoritas budaya dalam studi penelitian kualitatif. Mereka menyatakan bahwa tidak hanya berharga dalam minoritas namun juga diamanatkan oleh lembaga Kesehatan Nasional. Karena itu, ketika mempelajari budaya tertentu dari fenomena,perawat yang menngunakan penelitian kualitatif  harus menyadari pentingnya manfaat dan keseluruhan minoritas termasuk dalam studi ini disaat yang tepat. Cohen dan koleganya mendiskusikan skeptisisme potensial yang mungkin ditemui ketika perawat mempunyai latar belakang budaya yang berbeda mencoba untuk meminta anggota budaya lain. Mereka menyarankan perawat yang terlibat penelitian beragam populasi dengan menggunakan beberapa strategi berikut:

mencari dukungan dan dukungan dari tokoh masyarakat
berkomitmen untuk memberikan kembali sesuatu untuk grup yang ingin belajar
mengembangkan hubungan yang berkelanjutan
mengembangkan kompetensi budaya dan sensitivitas
menjadi akrab dengan kelompok sebelum Anda mendekati mereka
mengakui sifat heterogen dari suatu kelompok, dan menggunakan strategi
anthropologic saat melakukan penelitian (Cohen et al , 2001, hal.194).

Memilih pengaturan dan peserta tepat akan membantu dalam mengembangkan penelitian yang sukses. Mengetahui bagaimana untuk mengakses situs, tahu apa yang diharapkan dari mereka yang merupakan bagian dari kelompok tertentu, dan mengetahui bagaimana cara paling efektif mengembangkan hubungan saling percaya dengan orang-orang yang membantu anda untuk belajar yang akan mendukung pencapaian tujuan penelitian.

Mencapai saturasi sebuah fitur yang erat kaitannya dengan topik adalah sampling jenuh. Saturasi mengacu pada pengulangan menemukan informasi dan konfirmasi dari data yang dikumpulkan sebelumnya (Morse, 1994).

Ini membuktikan bahwa ketimbang sampling sejumlah individu spesifik untuk mendapatkan signifikansi berdasarkan manipulasi statistik, peneliti kualitatif mencari pengulangan dan konfirmasi dari data yang dikumpulkan sebelumnya. Sebagai contoh, Rew (2003) tertarik dalam mengembangkan teori untuk menjelaskan bagaimana hidup temporal pemuda tunawisma di daerah perkotaan. Rew menyatakan bahwa kejenuhan dicapai pada akhir 12 wawancara, tiga peserta tambahan direkrut untuk memverifikasi temuan. Pada akhir 12 wawancara, Rew mampu mengenali pengulangan dalam data dan menetapkan bahwa penambahan informan berita membenarkan temuannya daripada menambahkan informasi baru. Sifat berulang-ulang data adalah titik di mana peneliti menentukan saturasi yang telah dicapai.

Morse (1989), namun disini ia memperingatkan saturasi yang mungkin mitos. Dia percaya bahwa jika sekelompok orang yang diamati atau diwawancarai pada waktu lain, data baru mungkin akan terungkap. Yang terbaik yang seorang peneliti kualitatif bisa berharap untuk dalam hal kejenuhan adalah untuk jenuh budaya tertentu atau fenomena pada waktu tertentu.





BAB III
PENUTUP

Penelitian kualitatif adalah riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.
Penelitian kualitatif jauh lebih subyektif daripada penelitian atau survei kuantitatif dan menggunakan metode sangat berbeda dari mengumpulkan informasi, terutama individu, dalam menggunakan wawancara secara mendalam dan grup fokus. Sifat dari jenis penelitian ini adalah penelitian dan penjelajahan terbuka berakhir dilakukan dalam jumlah relatif kelompok kecil yang diwawancarai secara mendalam.
Pengenalan proses ini ditawarkan untuk membantu pembaca memahami apa persamaan dan perbedaan antara paradigma penelitian kuantitatif dan kualitatif. Tujuannya adalah untuk menawarkan pembaca eksposur untuk proses dan syarat yang penting untuk pendekatan penelitian kualitatif. Sangat penting bahwa pembaca memahami kemudian merangkul persamaan dan perbedaan paradigma penelitian sebelum meluncurkan ke pelaksanaan penelitian kualitatif. Dalam bab berikutnya, deskripsi pembuatan data kualitatif dan manajemen akan diberikan ke tanah pembaca dalam bahasa dan proses penelitian kualitatif. Tujuannya adalah untuk menawarkan kepada pembaca tentang pemahaman umum penelitian kualitatif.
DAFTAR PUSTAKA


Ahern, K.J. (1999). Ten tips for reflexive Health Research, 9(3), 407-412.
Boyd, C. O. (2001). Philosopohical Foundation of qualitative research. In P.L. Munhall (ed), Nursing research: A qualitative perspective (pp. 65-89). Sudbury, MA: Jones and Bartlett.
Calvin,A. O. (2004). Haemodialysis patients and end-of-life decisions: A theory of personal preservation. Journal of advanced nursing, 46(5),558-567.
Cohen, M.Z.,Philips,J.M.,&palos,G.(2001). Qualitative research with diverse populations.seminars in oncology nursing, 17 (3), 190-196.
Coyne, I.T. (1997). Sampling in qualitative reseacrh. Porposeful and theoretical sampling: merging or clear boundaries? Journal of advenced nursing 17(3), 190-196.
Creswell,J.W.(2003). Reseach design: qualitatif, quantitatif, and mixed methods approaches (2nded). Thousand Oaks, CA: sage.
Denzin, N,K. (2000). Aesthetics and the practice of qualitative inquiry. Qualitative inquiry, 6(2), (253)-(265)
Field, P.A, & Morse,J.M. (1985). Nursing research: the application of qualitative approaches. Rockville, MD: Aspen.
Glase, B.G. (1978). Theoritical Sensitivity: Advances in The Metodology of Grounded Theory. Mill Valley, CA: Sociology Press.
Glaser, B.G, & Strauss, A. (1967). The Discovery of Grounded Theory. Chicago: Aldine

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger